| Oleh: Aziz Fachrezzy Gunawan (5B) Suatu hari, aku sedang belajar Bahasa Inggris tentang musim-musim salju di sana. Wah, rasanya ingin sekali merasakan salju tuh kayak apa. Aku bilang pada Mama yang menemaniku belajar. “Ma, Ade kayaknya pengen ngerasain salju tuh kayak apa ya, Ma?” “Insya Allah, suatu saat kamu bisa ngerasain salju tuh kayak apa, de. Mama doain……,” gitu kata Mama. “Mama mau ngerasain salju juga gak?” tanyaku pada Mama. “Enggak ah, de. Mama sekarang Cuma pengen naik haji dulu……,” jawab Mama. Ya Allah, tiba-tiba aku merinding dengar jawaban Mamaku. Aku memang suka lihat mata Mama berkaca-kaca kalau musim haji tiba dan menonton televisi ada berita tentang haji. Apalagi kalau ada yang berteriak “Labaik Allahumma Labaik….’, Mamaku pasti menangis. Suatu hari, aku sedang sarapan pagi sambil menonton TV yang dinyalakan Mamaku pada acara Nikmatnya Sedekah yang dibawakan oleh Ustadz Yusuf Mansyur. Pak Ustadz Betawi ini lagi ngomongin tentang haji. Aku dengar, Beliau bilang kalau mau cepet naik haji menabunglah. Tapi jangan menabung uang di bank, melainkan menabung lewat sedekah. Pada awalnya aku bingung. Bagaimana menabung dengan sedekah? Ternyata, maksudnya Pak Ustad, banyak – banyaklah bersedekah. Sedekahnya untuk mendapatkan pahala bisa naik haji. Kalau menabung uang di Bank, kadang-kadang suka habis untuk suatu keperluan.
|
Selasa, 14 Desember 2010
Mamaku Kepengen Naik Haji
Pengalaman Ibadah Umroh
Oleh: Yumna (6D) & Alma (5D)
Semarang- Jakarta:
Pada tanggal 23 Juli 2010, hari Jum’at pagi, kami sekeluarga berangkat menuju Tanah Suci Mekah-Madinah, untuk melaksanakan Ibadah Umrah. Kami menyiapkan perbekalan secukupunya, lalu bersiap-siap menuju ke Bandara Ahmad Yani. Pesawat Garuda Indonesia yang akan kami tumpangi berangkat (take-off) pukul 10.55.
Jakarta-Madinah:
Setelah sampai di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta sekitar pukul 11.55 WIB, kami transit untuk menunggu rombongan dari kota lain sambil menunggu pesawat Saudi Arabian Airlines yang akan membawa kami ke Madinah. Di sana Kami melaksanakan sholat dzuhur serta makan siang di ruangan transit bandara. Ternyata pesawatnya diundur keberangkatannya karena ada sesuatu masalah teknis, sehingga kami baru bisa take off sekitar pukul 17.00 WIB.
Perjalanan dari Jakarta ke Madinah diperkirakan memakan waktu sekitar 8 jam. Sebelum sampai di Madinah kami transit di Kota Damam, pesawat transit untuk mengisi bahan baker dan menurunkan penumpang di kota tersebut. Damam adalah kota penghasil minyak terbesar di Negara Arab. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Madinah sekitar satu setengah jam. Kami sampai di madinah kurang lebih pukul 02.00 malam waktu setempat, kami langsung menuju hotel. Setibanya di Hotel Mubarok al-Madinah kami menaruh barang-barang dan bersiap-siap untuk melaksanakan Sholat Tahajud dan Sholat Subuh di Masjid Nabawi. Setelah sholat kami kembali ke hotel untuk istirahat, mandi dan makan pagi.
Madinah:
Setelah makan pagi rombongan berkumpul di lobby hotel sekitar pukul 07.30, selanjutnya kami berziarah ke makam Baqi, tetapi yang diperbolehkan masuk ke dalam makam Baqi hanya laki-laki saja, para wanita hanya boleh melintas di depan makam Baqi itu. Sambil menunggu rombongan yang berziarah, para wanita melaksanakan ibadah sholat Dhuha di Masjid nabawi dan bersiap-siap untuk sholat sunnah di Raudhoh. Raudhoh adalah tempat Nabi berkutbah di dalam Masjid Nabawi. Raudhah adalah tempat yang multazam, bagi orang yang berdo’a di tempat tersebut InsyaAllah akan dikabulkan oleh Allah SWT. Untuk masuk ke rauddhoh kami diharuskan antri, karena jamaah yang ingin ke Raudhoh banyak sekali dari segala penjuru dunia, antara lain dari Turki, mesir, Malaysia, China, India, Pakistan, bahkan dari Jerman. Yang paling banyak adalah jamaah dari Indonesia dan Turki. Sambil menunggu antrian kami duduk untuk berdoa dan berzikir serta mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah masuk kami juga harus mengantri lagi sambil berdesak-desakan, namun kami harus sabar agar kami dapat sampai ke tempat karpet hijau (area Raudhah) untuk sholat sunnah 2 rakaat, dan berdo’a untuk memohon ampunan kepada Allah SWT dan memohon agar do’a kita dikabulkan oleh Allah SWT. Setelah dari Raudhoh, kami istirahat di hotel untuk selanjutnya memperbanyak sholat wajib dan sunnah di Masjid Nabawi.
Hari berikutnya tanggal 25 Juli 2010, kami pergi ke Bukit Uhud, tempat dimana terjadinya perang uhud pada tahun 3 H, disana kami mengunjungi makam para syuhada Uhud dan kami juga mendo’akannya akan diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. Perjalanan selanjutnya kami menuju ke daerah medan magnet, disana kami mengambil foto bersama dan melihat bukit yang subhanallah dari jauh seperti ada tulisan Allah. Ketika memasuki daerah medan magnet, kendaraan yang kami tumpangi tertarik menuju bukit magnet padahal posisi gigi persneling dalam keadaan kosong. Meskipun kondisi jalan agak naik, kendaraan yang kita tumpangi akan tertarik maju, dan terlihat pada speedometer bus yang kami tumpangi akan menunjukkan angka sampai batas kecepatan maksimal, subhanallah…
Selanjutnya kami pergi ke percetakan Al Qur’an, tetapi perempuan tidak boleh masuk ke dalam pabriknya. Perempuan hanya boleh menunggu di koperasinya saja, kami melihat-lihat banyak Al Qur’an mulai dari yang terkecil sampai yang terbesar serta sudah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa di dunia.
Pada tanggal 26 Juli 2010, kami sudah harus berangkat ke Kota Makkah dan ini adalah hari terakhir kami berziarah di kota Madinah.
Makkah:
Dari Kota Madinah, kami berangkat kurang lebih pukul 14.30 sore, sebelumnya kami mengambil niat dan miqat di Dzulhulaifah (Masjid Bir Ali). Perjalanan dari Madinah ke Makkah sekitar 5 jam dengan naik bus. Kami sampai di hotel di kota Makkah pada pukul kurang lebih 20.30 malam, hotel itu bernama Hotel ufuk Fatih yang berada di belakang Hotel Zam-Zam Tower, hotel terbesar di Kota Makkah. Setelah sampai di hotel, kami langsung check-in dan makan malam. Setelah makan malam kami bersiap-siap untuk segera melaksanakan ibadah umrah bersama, yaitu thawaf mengelilingi ka’bah sebanyak 7 kali, sai lari-lari kecil dari Bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali serta tahalul memotong sedikit rambut. Rangkaian ibadah umrah yang kita lakukan, yaitu thawaf, sa’I dan tahalul pada malam itu berakhir kurang lebih pada pukul 02.30 dini hari. Selanjutnya kami beristirahat, karena kami telah melakukan kegiatan fisik yang melelahkan.
Keesokan paginya kami mengikuti city tour keliling Kota Makkah. Tempat yang kita kunjungi pada hari itu adalah: jabal tsur, arafah, jabal rahmah, muzdalifah, masjid masy’aril haram, mina, jamarat, ji’ranah, dan perkuburan ma’la.
Pada hari terakhir di Kota Makkah, kami melaksanakan thawaf wada’ (thawaf perpisahan/ pamitan) sebelum shalat jum’at. Selesai thawaf kita kembali ke hotel untuk siap-siap check-out, lalu naik bus menuju kota Jeddah. Sebelum ke bandara, kami melaksanakan city tour di Kota Jedah, yaitu ke Laut Merah, masjid terapung dan makan siang di pusat perbelanjaan Cornez. Setelah sholat Jum’at dan makan siang rombongan menuju Airport di Jeddah. Kami berangkat dari Jeddah ke Jakarta yang direncanakan take off pada pukul 18.20, sebelumnya kami transit terlebih dahulu di Changi Airport di Singapura. Lalu melanjutkan perjalanan ke Jakarta juga dengan menaiki Saudi Arabia Airlines. Sesampainya di Jakarta kami mengambil barang-barang bagasi lalu istirahat di bandara untuk sholat, setelah itu kami langsung pulang ke rumah. Pengalaman umrah itu sangat mengasyikkan, walaupun terkadang melelahkan. Alhamdulillah kami serombongan dapat melaksanakan ibadah umrah dengan nikmat. Semoga ibadah umrah yang telah kami laksanakan dapat meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. ***
Minggu, 18 Juli 2010
MG: Miasthenia Gravis
Oleh: Sarah Meiryzka Gunawan *
Tidak ada prestasi yang patut aku banggakan bagi sekolahku ini, namun aku hanya mencoba berbagi cerita tentang pengalamanku. Semoga menjadi kenang-kenangan yang tak terlupakan di sekolah ini.
Ketika aku masih duduk di kelas IV, aku sedih saat itu tidak terpilih ikut lomba mapel di Jakarta….tiba-tiba lidahku kelu’…. Aku kesulitan berbicara, yang tidak dapat mengucapkan huruf ‘R’ atau ‘S’ dengan jelas. Tidak hanya kesulitan bicara, aku juga kesulitan untuk mengunyah makanan, bahkan minum pun tersedak.
Mama-Papaku panik segera membawaku ke dokter spesialis anak (dokter yang merawatku sejak bayi). Namanya dr. Rudy Susanto. Diagnosis Beliau aku terkena radang. Setelah 4 hari obat dari Beliau habis, aku masih tetap kesulitan mengunyah dan berbicara.
Dr. Rudy menyarankan untuk konsultasi ke dokter spesialis THT. Aku diperiksa oleh dr. Retno. Diagnosisnya amandelku besar. Aku diharuskan untuk operasi amandel. Operasi dilakukan oleh dr. Amriyatun, operasi pengangkatan amandel berhasil dengan baik. Ya Allah, setelah beberapa minggu operasi, aku tetap tidak bisa mengunyah makanan dan bicaraku pun tetap cadel. Tanpa putus asa, mama membawaku ke dokter THT yang ahli pita suara dan ahli alergi. Beliau berdua tidak menemukan yang aneh pada tenggorokan dan pita suaraku.
Kedua orangtuaku bingung apa lagi yang harus dilakukan. Saking bingungnya, Papa menyetir mobil berputar-putar Simpang Lima hingga 5x…mungkin kalo aku ingat itu, aku tertawa….tapi mamaku saat itu menangis. Atas saran dr. Rudy, aku disarankan untuk diperiksa ke dokter ahli syaraf. Dokter Wirawan mendiagnosis, syaraf lidahku nomor 9 dan 10 lemah (ternyata lidah juga ada nomernya ya ..he..he..he). Aku diberi obat dan meminumnya setiap hari.
Alhamdulillah, aku sudah mulai bisa ngunyah dan bicara seperti dulu lagi. Tanpa terasa, setahun aku sudah mengkonsumsi obat itu, aku memang terbantu, tapi aku kadang-kadang jenuh. Memang aku lebih sehat dan gemuk (dipipi), tapi kata Pak Benny aku terlihat lemas.
Mamaku mendapat rujukan lagi dari tante Lily (sudah seperti saudara). Tante Lily adalah mamanya Andhika (temanku). Papanya Andhika adalah dokter ahli bedah syaraf. Namun, kata Tante Lily, mamaku harus cari second opinio ke dokter syaraf lainnya. Lalu mamaku membawaku ke dr. Endang Kustiowati.
Diagnosis dokter, jika melihat gejalanya, aku terkena MG (Miasthenia Gravis), salah satu penyakit auto imun, di mana tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang tubuhnya sendiri.
Kemudian aku dirawat sehari untuk pemeriksaan MSCT (Multi Slices CT-Scan), yaitu untuk melihat kelenjar thymus-ku yang menghasilkan imun pembengkakan atau tidak. Alhamdulillah, tidak bengkak, kalau bengkak sangat berbahaya.
Mama-Papaku masih bingung dengan penyakit yang menyerangku. MSCT tidak menandakan yang serius terhadap penyakitku. Aku dinyatakan sehat, namun aku tidak pernah minum obat lagi karena aku capek selama hampir setahun selalu minum obat terus.
Suatu hari, di sekolah sebelum jam istirahat, aku mengalami sesak napas. Istirahat di UKS sesak napasku membaik. Aku memberitahu Mamaku kalo aku tadi sesak napas. Sore hari menjelang maghrib aku kesulitan bernafas lagi. Aku menangis. Mama panik, aku mulai enggak kuat dan tidak ingat apa-apa lagi. Menurut cerita Mama, aku nggak sadarkan diri, air liurku mengalir deras. Dibantu oleh Pak As (pemilik catering sekolah yang juga sudah seperti saudara) Mama membawaku ke dokter. Saat itu Papa sedang tugas di Madiun.
Menurut cerita Mama dan adikku, saat di jalan aku sudah tidak sadarkan diri. Mereka menangis. Malah adikku bilang. “Teteh jangan mati …..”,Teteh itu artinya kakak (Sunda).
Mama membawaku ke dr. Rudy dulu. Pak As membopongku masuk ke ruang praktek dokter. Mama mendobrak pintu tanpa melihat masih ada pasien. dr. Rudy kaget melihat kondisiku begitu Pak As meletakkanku di tempat tidur periksanya
Mamaku pun shock, karena katanya tubuhku sudah membiru!. dr. Rudy nggak bisa bantu, aku dibawa ke UGD RS Tlogorejo yang dekat dengan tempat prakteknya….menurut Mama, Beliau membopongku dengan susah payah masuk UGD sambil berteriak minta tolong. Kata Mama, ia hanya menangis, lemas, jatuh terduduk memohon kepada Allah untuk menolongku…
Jantungku sudah lemah saat itu, dokter berupaya dengan keras. Mama ditanya mengenai riwayat penyakitku, apa ada asma / jantung. Tapi menurut Mama, nggak ada. Satu jam pertama, aku masih lemah. Doa Mama yang tadinya penuh pengharapan agar aku dapat pulih mulai berganti. Menurut Mama, saat itu Beliau lirih berdoa, “Ya Allah hamba hanya dititipkan anak ini oleh-Mu. Engkau Maha Tahu. Jika menurut-Mu anak ini harus Engkau ambil, ambillah, hamba ikhlas, tapi jangan siksa kami seperti ini ….”.
Aku sadar lagi, jantungku berdetak normal. Sujud syukur dipanjatkan juga oleh orang-orang lain yang sama-sama menunggu di UGD karena begitu heboh melihat kondisiku. Aku kemudian dirawat di ruang ICU anak, yakni PICU.
Sungguh, aku sendiri seperti tidak merasakan apa-apa, aku hanya tidur. Di hari kedua aku sempat bangun, senyum tapi tidak bisa berkata apa-apa karena di mulutku ada selang ventilator. Tapi Mama bilang, Beliau sempat mengajakku ngobrol dan bercanda. Tapi sungguh, aku tidak ingat apa-apa.
Di malam ke-2, tidurku gelisah. Di hari ke-3 aku kritis. Tubuhku saat itu menggelumbung seperti balon. Semua alat untuk bernafas dengan mesin dicabut. Waktu itu Mama-Papa dipanggil dokter anak PICU (dr. Tatty). Beliau bilang sudah berusaha semaksimal mungkin, tinggal menunggu saja waktu yang terbaik dari Allah. Tentu saja Mama panik, Mama baca Surah Yasin ayat demi ayat di telingaku. Papa menelepon sekolah untuk memohon doa bagiku, yang terbaik.
Papa membisikkan kalimat syahadat di telingaku. Mama mengambil wudhu, melakukan sholat taubah dan hajat. Entah berapa rakaat sampai bajunya basah oleh keringat. Kata Mama, Beliau tidak mampu memohon apapun, hanya berharap diberi kekuatan lebih dalam situasi ini. Lalu Papa menepuk bahu Mama yang sedang membaca surah yasin. Papa bilang, “Sarah sadar lagi ….”, kata Mama, Beliau tidak mampu membendung air matanya. Setelah menuntaskan membaca surah Yasin, Mama menghampiriku. Aku memang sadar walau tubuhku masih seperti balon.
Dokter kembali sibuk untuk memeriksaku. Ventilator di pasang lagi untuk membantuku bernafas. Tapi aku benar-benar tidak ingat apapun.
Kata orang-orang ini musibah, ada juga yang bilang ini adzab untuk Mama dan Papaku. Tapi kata Mama, kita nggak boleh Su’udzon sama Allah, apapun itu. Kalau kita nggak pernah ngalamin ini, kita nggak akan pandai dalam mengambil hikmah dari setiap kejadian: bahwa kekuatan doa membuat aku tetap bertahanm kepasrahan dan baik sangka kepada Allah yang telah menyebabkan banyak kemudahan. Tanpa kesulitan ini, kita mungkin tidak akan mendapatkan kesempatan baru.
Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak-Ibu guru, teman-teman semua (adik dan kakak kelas dulu) yang telah membantu aku dengan doa. Juga kepada teman Mamaku yang dengan ikhlas membantu dan mudah-mudahan semua adalah hamba yang dipilih Allah untuk ditakdirkan pandai membantu dan tanpa berharap imbal jasa, bukan seperti manusia kebanyakan yang bilang membantu itu ada batasnya………….
Tiada yang dapat aku berikan selain doa: “Berikan kesabaran dan keikhlasan pada diri mereka yang telah membantuku. Ya Allah bukakan pintu rejeki yang lebih baik dan lebih banyak dari yang telah aku terima. Ampuni aku dan ampuni mereka”…….
Aku memang sakit, tapi aku akan fight terus sampai tercapai cita-citaku menjadi dokter dan berupaya mengobati dan menyembuhkan orang-orang yang menderita penyakit sepertiku, yaitu dengan pertolongan-Nya.
Darimana datangnya penyakit ini, yang pasti dari Allah…..karena Allah berkehendak demikian. Tapi aku tetap mensyukuri apa yang telah diberikan Allah kepadaku, apapun bentuknya.
Buat Mama dan Papaku, aku tahu bagaimana kalian dengan susah payah menemaniku dalam derai air mata, lelah yang teramat sangat, terkadang ada cibiran, hinaan ataupun makian yang didapat, tapi kalian selalu kuat bertahan, walau aku tahu kalian telah lelah lahir dan batin. Mudah-mudahan Allah swt. mengampuni segala dosa-dosanya dan memanjangkan umur mereka, hingga aku mampu membalasnya….Aamiin. (*Alumnus SDIA 14 Semarang Angkatan IX Thn Pelajaran 2009 - 2010)
Genade Selatan 11
Suatu hari yang merupakan hari-hari baruku