FORUM INFORMASI DAN KOMUNIKASI
Tampilkan postingan dengan label Fikrah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fikrah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Desember 2010

Benarkah Kita Sudah Hijrah?

Oleh: Edy Mulyono, S.Ag

kita tahu bahwa hijrah itu adalah pindah, yang kalau pakai istilah geografi adalah migrasi, pindah dari satu tempat ke tempat lain, dengan berbagai turunannya seperti imigrasi, emigrasi, remigrasi, transmigrasi, urbanisasi dan lain-lain. Namun pengertian hijrah dalam Islam bukan sesederhana itu, yaitu bukan hanya pindah dari kota Mekkah ke kota Madinah, bukan, bukan itu.

Hijrah dalam Islam punya pengertian yang sangat luas, pindah dari buruk ke yang baik, pindah dari prilaku salah ke prilaku yang benar, pindah dari perbuatan maksiat yang penuh dosa ke perbuatan sakinah yang penuh pahala. Yang tadinya " Kutil " (kurang teliti), "Kurap' (kurang rapih), "Kudis" (kurang disiplin), "Kubis" (kurang bisa), "Kumal" (kurang malu) menjadi, teliti, rapih, disiplin, bisa dan punya rasa malu berbuat dosa dan seterusnya bisa di tambah dengan berbagai "Ku... Ku... " yang lainya.

Hijrah juga memunculkan harapan baru akan keadaan yang lebih baik. Islam mengajarkan, hari-hari yang kita lalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Dengan kata lain, setiap Muslim dituntut untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Hadits Rasulullah yang sangat populer menyatakan, ”Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung. Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka.” Oleh karena itu, sesuai dengan QS 59:18, ”Hendaklah setiap diri memperhatikan (melakukan introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok (alam akhirat).” Pada awal tahun baru hijriyah ini, kita bisa merancang hidup agar lebih baik dengan hijrah, yakni mengubah perilaku buruk menjadi baik, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Kemudian yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah Benarkah kita sudah hijrah ?

Mari kita lihat apa yang sudah kita lakukan ditahun lalu, apa yang sudah kita lakukan sekarang dan apa yang kita akan perjuangkan di tahun mendatang ? Apa yang sudah kita perjuangkan untuk Islam? “Jangan ditanya, apa yang sudah Islam berikan kepada kita, tapi apa yang sudah kita perbuat untuk kejayaan Islam? Sekecil apapun yang dapat kita perbuat, mari kita pasang niat untuk menyambut tahun baru Hijriyah 1432 dengan lebih giat memperjuangkan Islam, sebisa yang kita lakukan. Jangan segan segan untuk berbuat baik, walau hanya dengan sepotong ayat, segelas air, sebutir kurma atau dengan sebait kalimat ! Mari di tahun baru Hijriah ini, kita hijrah, hijrah pada hidup yang lebih baik motivasi yang lebih kuat, beramal yang lebih banyak, sebisa yang kita lakukan dengan potensi masing-masing ! Dan jangan lupa, mari kita hitung amal perbuatan kita, sebelum kita di hisabNya !

Janji Allah dalam surat An-Nisa : 100 ketika Allah SWT. memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk melakukan hijrah ke Madinah menyebutkan :öÅ

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Semoga dengan semangat hijrah, kita dapat memaknainya dengan menguatkan diri kita untuk berani melakukan perubahan menuju arah yang lebih baik pada saat ini dan masa yang akan datang. (EM)

Minggu, 18 Juli 2010

Menjadi Guru Yang Komunikatif

Oleh: Restu M. Hadi, S.Pd*

Setiap hari di dalam kelas guru harus berhadapan dengan bermacam karakter murid. Bermacam pula latar belakang lingkungannya. Faktor-faktor lingkungan yang biasa menyertai siswa antara lain: kesalahan-kesalahan pedagogis, keadaan kesehatan dan situasi rumah atau sekolah (yang menghasilkan gangguan-gangguan emosional atau gejala-gejala gangguan psikis).

Tugas utama mengajar bukan melulu melakukan sesuatu bagi siswa, tetapi lebih berupa menggerakkan murid melakukan hal-hal sesuai yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Bukan pula menerangkan hal-hal yang terdapat dalam buku, tetapi mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motivasi-motivasi, dan membimbing siswa untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Yang mutlak diperlukan di sini adalah tersambungnya komunikasi. Tentunya, komunikasi dua arah. Dari guru ke murid dan sebaliknya.

Ada dua macam komunikasi yang kita kedepankan di sini: komunikasi verbal dan non verbal. Penggunaan komunikasi verbal di dalam kelas hendaknya didesain seefisien mungkin, sehingga pembelajaran tidak menggusur format siswa sebagai subyek dan poros aktivitas pembelajaran.

Rangkaian pembelajaran harus mengarahkan siswa kepada tercapainya tujuan pembelajaran itu sendiri. Kata-kata bernuansa dorongan dan penyemangat lebih dibutuhkan siswa daripada ceramah-ceramah pengulangan materi. Kita harus membuang jauh-jauh model pembelajaran yang mengebiri aktivitas murid di dalam kelas, contohnya pembelajaran yang mutlak bertumpu pada aktivitas guru dan mengesampingkan kebutuhan murid secara naluriah.

Sebelum mengajar guru hendaknya merancang suatu pola komunikasi tertentu untuk mengatasi permasalahan anak didik di kelas. Kita sadari, bahwa ada beberapa anak yang tidak cukup hanya dengan komunikasi verbal, tetapi masih perlu dengan pendekatan-pendekatan individual secara intensif.

Banyak pula siswa yang lebih membutuhkan model komunikasi non verbal. Misalnya dengan body language, curahan perhatian, tulisan-tulisan suportif di buku tulisnya, misal: hebat, pintar, dan sebagainya. Semua bergantung pada karakter dan lingkungan sosial yang menyertai murid.

Hal lain yang perlu diperhatikan oleh guru adalah komunikasi dengan orang tua atau keluarga siswa. Di mana guru bertugas memberikan pelayanan kepada orang tua siswa. Beberapa kendala yang bisa muncul antara lain: sikap orang tua terhadap pendidikan bermacam-macam; kesibukan orang tua; tingkat pendidikan orang tua bervariasi sehingga model komunikasinya pun berbeda-beda; kebijakan personalia administrasi sekolah. Untuk itu para guru hendaknya mulai mengimbanginya dengan mencoba berberapa tehnologi komunikasi untuk membuka akses dengan orang tua.

Penggunaan tehnologi komunikasi secara efektif mampu membantu kinerja guru terutama dalam pelayanan terhadap orang tua. Lewat E-mail orang tua dapat berkomunikasi dua arah dengan guru tanpa harus bersusah payah bertatap muka di sekolah. Dengan membuat blog para guru memberi kesempatan kepada banyak orang untuk membaca dan memahami buah pikiran guru demi kemajuan pendidikan nasional. Berarti fungsi sebagai Public Relation bisa juga dijalankan oleh guru.

Kesimpulannya, guru yang komunikatif adalah guru yang mampu menggunakan alat-alat komunikasi baik verbal maupun non verbal dalam rangka membina hubungan dengan siswa dan masyarakat untuk mencapai tujuan pendidikan. *Wakil Kepala Sekolah SDIA 14 Semarang.

Mari Membaca (Iqro)

(Oleh: Yani Mulyani, SP) *

Sebagai renungan di Hari Pendidikan Nasional ada pengalaman menarik yang kaitannya erat dengan esensi pendidikan, yaitu membaca. Dika-itkan dengan masa penerimaan murid baru selalu ada Pengalaman tentang mengamati kesiapan membaca calon murid baru. Melihat murid-murid yang gemar membaca dan selalu mengikatkan diri dalam gelimang buku bermutu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi saya, seorang guru. Bukan karena akan terhindarkan dari beragam kesulitan mengelola kelas dengan murid-murid special. Bayangan saya merekalah yang telah menggenggam kehidupannya sendiri. Murid yang telah memiliki budaya membaca jarang menunjukkan kesulitan dalam belajar. Mereka sangat pandai memilih, menilai dan menikmati bacaannya. Umumnya mereka telah memiliki konsep diri yang sangat jelas.

Adapula murid-murid yang tergolong belum memiliki kecintaan untuk membaca. Secara teknis mereka sulit membaca, bahkan yang lebih memprihatinkan adalah ketika mereka dapat membaca namun tidak mengerti apa yang dibacanya. Program persiapan membaca yang cenderung dilakukan secara drill pada jenjang PAUD banyak memunculkan kasus tersebut. Murid tidak menjadi lebih kaya pengetahuannya meskipun sudah pandai membaca, karena ia mengalami kesulitan dalam memahami bacaannya. Sebenarnya apa tujuan akhir dari pengajaran membaca?

Salah satu surat dalam Al Qur`an yang sering dikaitkan dengan kemampuan membaca adalah surat Al-Alaq. Ada perintah iqra` pada surat tersebut. Kata iqra` terambil dari kata qara`a yang pada mulanya berarti menghimpun. Ketika kita merangkai huruf dan mengucapkannya maka kita sedang menghimpunnya, yaitu membacanya.

Perintah membaca dalam ayat pertama Surat Al Alaq tidak menyebutkan objek bacaan. Dalam kaidah kebahasaan Apabila suatu kata kerja yang membutuhkan objek tetapi tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa karena iqra` digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan, dan sebagainya, dan karena objeknya bersifat umum, maka objek kata tersebut mencakup segala yang dapat terjangkau, baik ia merupakan bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun bukan, baik ia menyangkut ayat-ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Alhasil perintah iqra` mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, serta bacaan tertulis, baik suci maupun tidak. (Tafsir Al Mishbah,2002, vol 15 hal 393).

Berkaitan dengan dunia guru dan pengasuhan, luasnya makna membaca seharusnya mendasari semangat untuk lebih menggali cara dalam memotivasi murid untuk membaca. Tujuan akhir membaca adalah mengajak murid untuk dapat menelaahatau berpikir, bukan kemahiran dan kecepatan membaca teks semata. Memang tidak dapat dipungkiri kemampuan membaca teks tertulis merupakan hal yang paling mudah diukur, sehingga tidak jarang hal tersebut dijadikan tujuan utama dari pengajaran membaca bagi para murid. Seharusnya kita menyadari bahwa kemampuan membaca teks tertulis adalah satu tahapan penting saja dari seluruh tahapan kemampuan Iqra`. Ada banyak kondisi yang harus benar-benar dimengerti sebagai prasyarat pengajaran membaca agar kegiatan tersebut mengantarkan murid ke dalam kesejatian tujuan iqra` itu sendiri, yaitu berpikir. Mari melatih membaca, mari melatih berpikir. (* Kepala SDI Al Azhar 14 Semarang)